HALOSMI.ID – Jumlah bencana hidrometeorologi di Kota Sukabumi dari masa ke masa terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Pusdalops PB BPBD, terdapat 273 kali bencana yang tersebar di 7 tujuh kecamatan. Angka tersebut dihimpun selama periode Januari-Oktober 2024.
Berdasarkan data yang diperoleh, bencana yang mendominasi yakni cuaca ekstrem dengan jumlah 121 kejadian, disusul tanah longsor 62 kali, banjir 46 kali, kemudian kebakaran pemukiman 23 kali, angin topan atau beliung 12 kali, gempa bumi enam kali dan terendah kebakaran lahan tiga kali.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taufik, mengatakan bahwa dampak bencana hidrometeorologi ini juga menimbulkan kerugian yang ditaksir mencapai lebih kurang Rp4,6 miliar, dengan luas area terdampak 1,2242 Ha dan 406 KK terdampak.
“Akibat bencana yang terjadi di Kota Sukabumi telah memakan dua korban jiwa, sementara untuk kerugian ditaksir mencapai Rp4.661.500.000,” ujar Novian, kepada HALOSMI.ID, Jumat, 15 November 2024.
Selain itu, lanjut Novian, bencana ini juga mengakibatkan 538 unit bangunan mengalami kerusakan, dengan rincian 42 unit rusak berat, 120 unit rusak sedang dan 376 unit rusak ringan.
“Ya akibat bencana ini juga terdapat dua orang meninggal dunia, kemudian satu orang luka berat, lalu dua luka ringan, delapan jiwa mengungsi dan delapan jiwa terdampak” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pada April merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat dengan jumlah 72 kejadian bencana, kemudian disusul Maret 39 kali kali kejadian, Januari 36 kali kejadian, Mei 35 kejadian, Juni 25 kali kejadian, September 15 kasus, Februari 18 kejadian, Juli 14 kasus, Oktober 10 kasus dan Agustus 2 kasus.
“Secara aggregate, cuaca ekstrem, tanah longsor dan banjir itu paling mendominasi di Kota Sukabumi,” ungkapnya.
Adapun wilayah kecamatan yang tertinggi terdampak bencana diantaranya, Kecamatan Gunungpuyuh sebanyak 51 kali kejadian, dan terendah di Kecamatan Cibeureum yang jumlahnya mencapai 30 kali kejadian. Sedangkan, lima kecamatan lainya masih tergolong tinggi.
“Ya untuk Warudoyong ada 48 kali kejadian, Lembursitu 48 kali, Citamiang 36 kali, Baros 31 kali dan Kecamatan Cikole 29 kali,” paparnya.
Sementara itu, sambung Novian, khusus bencana pada Oktober itu tercatat ada 10 kali kejadian. Ia menyebut, cuaca ekstrem menjadi bencana yang mendominasi yakni sebanyak tujuh kali, disusul kebakaran permukiman dua kali dan terendah banjir satu kali, hal tersebut dikarenakan pada bulan Oktober anomali cuaca yang memasuki musim kemarau basah menjelang perubahan menuju musim penghujan.










