Ini Tanda Ekonomi Indonesia Sedang Tidak Baik-baik Saja

4. Rupiah melemah

Pada awal Januari 2025, rupiah bergerak di kisaran Rp16.190 per dolar AS. Namun, geraknya tak kunjung membaik memasuki Februari 2025 sehingga mata uang Garuda tetap bertengger di kisaran Rp16.430.

Memasuki Maret 2025, rupiah masih berkutat di level Rp16.475 per dolar AS. Sedangkan hari ini dibuka jatuh di Rp16.515 pada perdagangan pasar spot.

Pelemahan rupiah juga terus dibayangi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Bahkan, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi rupiah tak akan cukup kuat melawan dolar AS.

Direktur Riset Bidang Keuangan CORE Etika Karyani merasa sulit melihat sinar rupiah ke depan. Ia mengungkit bagaimana performa buruk mata uang Garuda di saat Trump menjalankan periode pertamanya pada 2017-2021.

Ketika BI ingin menurunkan tingkat suku bunga, berharap ada ekspansi investasi, tapi ternyata itu juga tidak cukup kuat menahan adanya kurs dolar AS yang terus naik. Sehingga rupiah kita semakin menurun (melemah).

5. Deflasi beruntun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi bulanan beruntun pada awal 2025, yakni 0,76 persen di Januari 2025 serta 0,48 persen pada bulan berikutnya.

Bahkan, ada deflasi tahunan 0,09 persen sebagai fenomena yang baru muncul lagi setelah 25 tahun lamanya.

Kendati, Menkeu Sri Mulyani menegaskan deflasi bukan menunjukkan daya beli masyarakat yang turun. Ia mengklaim pemerintah sengaja menurunkan harga-harga di pasar.

Wanita yang akrab disapa Ani itu mengatakan pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50 persen pada Januari 2025-Februari 2025, di mana menjadi penyumbang deflasi. Ada juga diskon bahkan tarif tol gratis, sampai menurunkan harga tiket pesawat jelang mudik lebaran.

Anak buah Prabowo itu mengakui bagaimana pentingnya daya beli dalam menopang perekonomian Indonesia. Ia mengklaim APBN selama ini sudah membantu warga Indonesia sangat banyak.

“Daya beli, daya beli, daya beli. Walaupun banyak berita mengenai kelas menengah, namun di tengah terpaan yang begitu banyak, dalam 3 tahun terakhir Indonesia mampu menjaga growth consumption kita mendekati 5 persen. Jadi, ini adalah sesuatu yang luar biasa dan peranan APBN luar biasa banyak untuk menjaga daya beli tersebut,” tuturnya.

6. Anomali APBN

APBN mengalami defisit Rp31,2 triliun alias 0,13 persen sampai 28 Februari 2025. Ini dikarenakan belanja negara pada dua bulan pertama tembus Rp348,1 triliun, sedangkan pemasukannya cuma Rp316,9 triliun.

Sri Mulyani melaporkan pendapatan negara baru 10,5 persen dari target APBN 2025. Sumbernya berasal dari penerimaan perpajakan senilai Rp240,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp76,4 triliun.