Ragam  

Hewan yang Tercatat Jadi Pahlawan dalam Peperangan, Apa Saja?

3. Gajah

Gajah meninggalkan jejak dalam peperangan kuno sebagai makhluk yang mampu menghancurkan formasi pasukan musuh yang padat. Gajah dapat menginjak-injak tentara musuh, menanduk mereka dengan gadingnya, dan bahkan melempar mereka dengan belalainya.

Mereka sering kali dipersenjatai untuk melawan senjata musuh, atau ujung gadingnya ditusuk dengan paku besi. Beberapa bahkan membawa panggung pertempuran yang ditinggikan di punggung mereka untuk pemanah dan pelempar lembing.

Gajah pertama kali digunakan dalam perang di India sekitar abad ke-4 SM, berabad-abad setelah gajah Asia liar pertama kali dijinakkan di sana sekitar tahun 4500 SM.

Gajah berkembang biak dengan lambat dan kawanan yang ditawan jumlahnya sedikit, sehingga gajah jantan liar biasanya ditangkap dan dilatih untuk menjadi gajah perang.

Pada tahun 331 SM, pasukan penyerang Alexander Agung bertemu dengan gajah perang Kekaisaran Persia untuk pertama kalinya dalam Pertempuran Gaugamela.

Gajah-gajah itu membuat para prajurit Alexander ketakutan, tetapi itu tidak menghentikan mereka untuk memenangkan pertempuran, dan segera Alexander menambahkan semua gajah perang Persia ke dalam pasukannya sendiri.

Pada akhirnya, gajah terbukti tidak cocok untuk perang dan mereka terlalu rentan terhadap senjata massal, dan mudah panik. Kendati demikian, gajah terus digunakan sebagai hewan perang di Asia dan India hingga beberapa abad terakhir.

4. Unta

Unta masih digunakan sebagai tunggangan patroli militer di padang pasir, pegunungan, dan tanah tandus di beberapa wilayah di dunia. Meskipun unta tidak dapat berlari secepat kuda, unta sangat berharga karena kemampuannya bertahan dalam perjalanan panjang dalam kondisi yang keras dan terkadang hampir tidak ada air.

Para arkeolog berpendapat bahwa unta pertama kali dijinakkan sebagai hewan pengangkut dan hewan ternak untuk diambil susu dan dagingnya di Afrika Utara dan Timur Tengah sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Penggunaan unta pertama yang tercatat dalam perang adalah pada tahun 853 SM, ketika raja Arab Gindibu mengerahkan 1.000 unta dalam pasukan sekutu dalam melawan bangsa Asyur di Pertempuran Qarqar, di wilayah Suriah modern.

Sejak abad ke-7 M, pasukan unta Arab, Berber, dan Moor merupakan bagian penting dari pasukan Muslim yang menaklukkan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol selatan.

Pasukan unta asing sering digunakan dalam pasukan kolonial Eropa pada abad ke-18 dan ke-19, di Timur Tengah, Afrika, dan India. Beberapa negara masih memelihara unit kavaleri unta yang merupakan keturunan dari pasukan kolonial tersebut.