Ragam  

Yuk Kenalan dengan Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

HALOSMI.ID- Hari Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Februari setiap tahunnya. Hal ini juga diperingati sebagai hari lahirnya organisasi wartawan Indonesia, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Ngomong-ngomong soal wartawan, tahukah kamu siapa perempuan pertama di Indonesia yang menjadi jurnalis? Dia adalah Roehana Koeddoes (Ruhana Kudus). Tak hanya menjadi wartawati pertama, Roehana juga merupakan sosok yang peduli pada pendidikan dan aktif memperjuangkan hak perempuan semasa hidupnya.

Yuk, simak profil Roehana Koeddoes yang jadi jurnalis perempuan pertama Indonesia berikut ini!

Peduli pada Pendidikan

Roehana lahir pada 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Sumatera Barat. Ia tumbuh menjadi sosok yang peduli dan memiliki komitmen tinggi pada pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan.

Meskipun ia tidak mendapatkan pendidikan secara formal, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Sejak kecil, ia rajin belajar melalui bahan bacaan yang dibawa oleh sang Ayah, seorang pegawai pemerintah Belanda, dari kantor. Roehana juga gemar membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup dan pendidikan di Eropa.

Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan berbuah manis di tahun 1911. Dilansir dari CNN Indonesia, ia berhasil mendirikan sekolah pertama di Indonesia yang secara khusus diperuntukkan bagi kaum perempuan yang diberi nama sekolah Kerajinan Amai Setia.

Sekolah tersebut memberdayakan perempuan melalui berbagai program, mulai dari pengajaran literasi bahasa Arab, keterampilan, hingga moralitas.

Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Selain fokus pada dunia pendidikan, Roehana juga aktif menulis di surat kabar perempuan. Awal mula karir jurnalistiknya dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia.

Di tahun 1912, ia berinisiatif mendirikan surat kabar sendiri yang diberi nama Sunting Melayu. Melalui ide cemerlangnya, Sunting Melayu menjadi salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur, dan penulisnya adalah perempuan.

Melalui karya-karyanya, Roehana mampu menginspirasi dan mendorong kaum wanita untuk membela kesetaraan dan melawan kolonialisme.

Memperjuangkan Hak Perempuan

Sepanjang hidupnya, Roehana juga aktif dan berani dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk dalam bidang yang ia geluti, yakni pendidikan. Ia berhasil mematahkan anggapan masyarakat di kotanya bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan dengan mendirikan sekolah khusus kaum perempuan bernama sekolah Kerajinan Amai Setia.